Pantang pulang sebelum magrib
Lagi musim hujan ya hmm... jadi inget waktu gue masih bersama sahabat kecil dulu, dimana hujan adalah alarm untuk bersuka cita dan seneng-seneng woohh... dimana kita esoknya pada menggigil, dimarahi orang tua, dan tidak masuk sekolah karena flu.
Mengingat dulu, gue lebih sering menghabiskan waktu di dunia nyata, daripada dunia maya. Atau mungkin, waktu itu memang belum ada dunia maya?
Entahlah…
Waktu itu gue gak peduli sama dunia maya..
pulang woiii... di cariin emak noh,, -,-
12:00 WIB. Bel pulang sekolah berbunyi.
Berarti. It’s time to rock!!
“Maem dulu baru maen,” kata emak, waktu itu.
“Ya maaaaaaaaaaaa,” jawabku, sambil mengambil nasi ke piring, sengaja sedikit, agar dikiranya itu adalah sisa makanan yang baru aku makan, males makan. Kehilangan semenit aja jam main itu kalo jaman sekarang kayak udah kek seharian gak buka Twitter.
Tanpa sebuah komunikasi lewat handphone apalagi dunia maya kita berkumpul dengan lengkap, gak perlu di mention satu-satu. Aneh, tapi ini pernah kita alami. Tanpa handphone kita tetap manusia paling bahagia.
Sedih, rasanya, sekarang tempat tanpa kemunafikan itu sekarang sudah berbentuk beton. Ketika uang bisa membeli alam. Remaja sekarang lebih memilih merasa hijau karena uang bukan karena Alam. Padahal alam menyajikan apa yang gak bisa dibeli dengan uang.

0 komentar:
Posting Komentar